October 5, 2026

UPACARA ADAT TUK SI BEDHUG

August 15, 2025

DAPOBUD-OPK: Ritus,

Upacara adat Tuk Si Bedug diselenggarakan oleh masyarakat Margodadi, Seyegan, Sleman. Bagi masyarakat Margodadi, upacara adat Tuk Si Bedug diselenggarakan dengan tujuan untuk

  1. Mengenang jasa Kanjeng Sunan Kalijaga dalam menyebarkan dan mengajarkan agama Islam, dan agar warga masyarakat Margodadi meningkatkan iman taqwanya kepada Tuhan Yang Maha Esa;
  2. Memelihara dan melerstarikan kebudayaan Jawa;
  3. Menarik wisatawan dalam rangka upaya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan warga Desa Margodadi. Pelaksanaan upacara diawali pada hari Kamis Wage, sedang puncak upacara hari Jumat Pahing. Sebelum itu diadakan perayaan pasar malam selama tujuh hari, dari hari Kamis wage sampai dengan hari Kamis Legi.

Upacara adat Tuk Si Bedhug diawali dengan pengambilan air Tuk Si Bedhug. Prosesi pengambilan air Tuk  Si Bedhug dilakukan pada hari Kamis Wage, setelah para santri melakukan sholat maghrib. Selesai para santri melakukan sholat maghrib, untuk menunggu peserta dari enam belas wilayah/kring lengkap dengan musik sholawat. Kemudian apabila keenam belas kring telah lengkap hadir upacara dimulai dengan pembacaan riwayat petilasan Grogol.

Tempat-tempat pelaksanaan upacara antara lain; Tuk Si Bedhug, tempat pengambilan air dan juga tempat untuk mengembalikan air; Ketandan Grogol, tempat untuk upacara pemindhangan; di lapangan, digunakan untuk menampung peserta dan pengunjung upacara. Tempat-tempat yang digunakan pelaksanaan upacara adat Tuk Si Bedhug, adalah termpat-tempat yang menurut anggapan masyarakat mempunyai kaitan dengan perjalanan Kanjeng Sunan Kalijaga. Peserta yang terlibat dalam pelaksanaan upacara antara lain Camat dan Staf Kecamatan seyegan, semua perangkat desa, dan tokoh-tokoh masyarakat. Dalam pelaksanaan upacara ini dilibatkan pula seniman, kelompok tani, alim ulama, PKK, Pengurus RT-RW, Sholawat Pedukuhan Druju. Sesaji yang disertakan dalam pelaksanaan upacara :

  1. Sesaji Baku : tumpeng, ikan panggang ayam, ingkung ayam, sego golong, tukon pasar, jenang-jenangan, rujak degan.
  2. Sesaji Tambahan : Wulu wetu (hasil panen), pala kesampar, pala kependhem, pala gumanthung.

Prosesi puncak upacara adapt Tuk Si Bedhug dilakukan pada hari Jumat Pahing, sekitar pukul tiga sore. Upacara ini diawali dengan laporan Pandega kepada Ki Pangarso bahwa kirab air Tuk Si bedhug yang diiringi gunungan cethil siap dilaksanakan. Laporan diterima Ki Pangarso. Kemudian Ki Pangarso menyampaikan kepada Ki Juru Rumekso mohon akan dimulainya upacara dan sekaligus mohon pamit :

“Dhumateng Ki Juru, kulo Ki Pangarso keparenga matur bilih sampun ndhungkap wahyunipun badhe tumapaking kirab luhur sampun siaga, pramilo kulo sakadhang keparenga nyuwun pamit nindakaken ayahan luhur puniko”.

 Terjemahan :

“Kepada Ki Juru saya Ki Pangarso menyampaikan bahwa pelaksanaan kirab telah siap, maka kami mohon pamit untuk melaksanakan tugas luhur ini”.

Ki Juru Rumeksa mohon mendengar dan menerima laporan Ki Pangarso dan segera mempersilahkan Ki Pangarso dan semua peraga prosesi upacara berangkat. Dengan harapan bahwa perjalanan menuju tempat upacara tidak mendapat halangan atau hambatan suatu apa, rahayu sampai di tempat tujuan. Setelah sampai di tempat upacara diselenggarakan cerita atau fragmen perjalanan Kanjeng Sunan Kalijaga dalam menyebarkan dan mengajarkan Syariah Islam sampai terjadinya Tuk Si Bedhug dan petilasan Makam Grogol.

Dalam kesempatan ini, Ki Pangarso menyampaikan laporan kepada Ki Pranata Warga tentang kedatangannya dengan membawa Tirta Tuk Si Bedhug yang akan diserahkan kepada Ki Pranata Warga.

“Nuwun, dhumateng Ki Pranata warga, kulo Ki Pangarso wontena keparengipun matur bilih upacara napak tilas lekasipun Kanjeng Sunan Kalijaga sahengga para tawekel anggenipun ngrasuk agami Rosul, kanthi nilar petilasan Tuk Si Bedhug saha makom, sinengkuyuh para ulama, para warga lan sedaya pendherek, lumampah kanthi rancak, kinaryo bukti ampil-ampilan Tirta Tuk Si Bedhug winadahan Kendhi Pratala, gunungan cethilan, soho sekul wilujengan lan wulu wetu kulo sumanggaaken. Bab wradinipun sahengga saged nuwuhaken rahayuning warga kanthi lelandesan ngrasuk agami suci”.

Terjemahan :

“Kepada Ki Pranata warga, saya Ki Pangarso melaporkan bahwa upacara napak tilas pesan Kanjeng Sunan Kalijaga, sehingga para warga taqwa dalam menganut agama Rasul, dengan meninggalkan petilasan Tuk Si Bedhug dan makam, didukung para ulama, para warga dan seluruh peserta berjalan dengan lancer, sambil membawa bukti membawa air Tirta Tuk Si Bedhug dalam Kendhi Pratala, gunungan cethilan, tumpeng, dan hasil bumi kami serahkan. Tentang ratanya pembagian sehingga dapat mengayomi warga berdasarkan agama suci”.

Laporan Ki Pangarso diterima oleh Ki Pranata Warga beserta benda-benda yang dibawa, terutama Tirta Tuk Si Bedhug untuk dibagi merata kepada yang membutuhkan. Selanjutnya dibagikan pula cethil dari panggung cethil.

Dalam kesempatan ini disampaikan pula sambutan Bupati Sleman yang dilanjutkan para pandega prajurit kepada wira pandega serta laporan wira pandega kepada Ki Pangarso. Prosesi upacara adapt Tuk Si Bedhug diakhiri dengan penyebaran udhik-udhik dan pembagian cethil oleh Bupati Sleman.