Pada waktu Sunan Kalijaga melakukan perjalanan menyebarkan dan mengajarkan Syariah Islam, beliau beristirahat di Grogol. Kanjeng Sunan sampai di Grogol pada hari jumat Pahing. Dalam istirahatnya itu sunan Kalijaga sisiran dan memotong kuku. Sewaktu sisiran rambut rontok dan potongan kuku dipetak/ditanam di Grogol (Ketandan). Selanjutnya Sunan Kalijaga melanjutkan perjalanan dan kemudian istirahat di bawah pohon beringin. Sampai di tempat itu waktu tengah hari dan beliau mendengar suara bedhug bertanda bahwa waktu Sholat Dhuhur tiba.
Karena itu Sunan Kalijaga akan melakukan Sholat Dhuhur, tetapi pada waktu akan berwudlu di tempat itu tidak ada air. Kemudian beliau menancapkan teken atau tongkat. Dibekas tancapan teken itu keluarlah air untuk wudlu. Untuk mengenang peristiwa itu, tempat di mana Sunan Kalijaga menancapkan teken sehingga keluar airnya dinamakan Tuk Si Bedhug. Nama ini artinya : Tuk = sumber air dan Bedhug adalah tanda Dhuhur. Peristiwa itu tejadi pada waktu Dhuhur”.
Selesai pembacaan riwayat petilasan Grogol, Pandhega melaporkan kepada Pengageng Grogol bahwa peserta sudah siap melakukan pengambilan air Tuk Si Bedhug. Sesampainya di Tuk Si Bedhug dimulai pengambilan air. Sebelumnya dipersiapkan dua jodhang yang berisi lima kendhi berisi air penuh dan dua kendhi yang disemayamkan pada tahun lalu. Setelah pengambilan air selesai Wali/Santri melapor kepada Lurah Desa dilanjutkan pemecahan kendhi pertanda pembukaan pasar malam.
